Kamis, 30 Juni 2011

PERAN TES GRAFIS DALAM MENGUNGKAP KECERDASAN EMOSIONAL

Drs. Widura I.M., MSi., Psikolog

Tesis Goleman tentang kecerdasan emosional pada dasarnya telah lama menjadi perhatian para ahli psikologi dengan berbagai studi dan penelitian di bidang ini. Dengan titik perhatian studi yang bervariasi tentang emosi, telah banyak upaya para ahli untuk mempelajarinya sebagai salah satu aspek psikologis. Menurut Goleman kecerdasan emosional sulit diukur secara kuantitatif, namun bukan berarti tidak dapat diditeksi. Salah satu instrumen diagnostik psikologis yang dapat dimanfaatkan adalah tes grafis sebagai salah satu teknik proyektif untuk mengungkap gambaran aspek emosi. Hanya saja hasil diagnosa tes grafis secara tradisional tidak secara eksplisit menjelaskan kecerdasan emosional. Sebagai suatu metoda diagnostik yang digunakan dalam setting klinis, pendekatan teknik projektif lebih mengarah pada asesmen kepribadian (personality) secara utuh. Diperlukan telaah lebih seksama, sehingga apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional dapat diinterpretasi dari data yang diungkap oleh tes-tes grafis.

Dalam makalah ini penulis akan mengulas beberapa prinsip dasar tes grafis sebagai teknik projektif. Kemudian dicoba untuk menarik inti sari dari pemahaman yang dimaksud dengan kecerdasan emosional dan mengulasnya melalui konsep psikoanalisa sebagai acuan dasar dalam mengungkap gambaran aspek emosi yang diamati melalui tes grafis/teknik proyektif. Dan selanjutnya akan dibahas beberapa area simptom dari data grafis yang secara hipotetis dapat digunakan untuk menginterpretasikan aspek-aspek kecerdasan emosional. Seberapa jauh kesesuaian konsep psikoanalisa sebagai acuan teknik proyektif dan interpretasi data serta simptom-simptom dari tes grafis dalam mengungkap kecerdasan emosional tentunya perlu menjadi bahan studi dan diskusi lebih mendalam. Karena tidak dapat dielakan bahwa interpretasi dari tes grafis sulit dihindari dari pengalaman dan subjektivitas pemeriksa/evaluator disamping konsepsi ukuran objektif kecerdasan emosional itu sendiri yang belum tuntas disepakati.

Tes Grafis sebagai Teknik Projektif

Sebagai instrumen psikologi, tes grafis dimaksudkan untuk mengungkap kepribadian secara menyeluruh. Melalui pendekatan teknik projektif, tes grafis didasarkan atas pandangan psikodinamika kepribadian dan dianggap sensitif terhadap aspek-aspek ketidaksadaran dari perilaku (Kendall & Norton-Ford, 1982 : 290). Sehingga prosedur administrasi (dan keterampilan interpreter) termasuk situasi tes perlu diperhatikan dengan seksama bila hendak mengungkap aspek-aspek tersebut. Dari aspek administrasi, teknik projektif mempersyaratkan tata-cara instruksi yang singkat, tidak memaksa dan tidak ketat. Sedangkan mengenai situasi tes, dipersyaratkan adanya suasana yang relaks sehingga subjek dapat leluasa tanpa curiga dapat mengekspresikan dirinya melalui gambar yang dibuatnya. Kesemuanya ini dimaksudkan agar tujuan tes untuk mengungkapkan aspek-aspek dari dalam diri individu dapat diproyeksikan ke luar tanpa mengalami hambatan. Untuk alasan yang sama, rangsang tes umumnya juga tidak tegas atau ambigus. Hal ini didasarkan atas hipotesis bahwa bagaimana individu mengamati dan menginterpretasikan material tes, atau “menstrukturkan” situasi yang dihadapinya akan merefleksikan aspek-aspek fundamental fungsi psikologis dirinya (Anastasi, 1988 : 594). Dengan kata lain, material tes dapat dianggap sebagai layar dimana subjek dapat “memproyeksikan” proses berfikirnya, kebutuhan-kebutuhannya, kecemasannya, dan konflik-konfliknya.

Dalam penerapannya, walau pada awalnya tes grafis lebih ditujukan untuk maksud klinis namun pada kenyataannya tes-tes grafis cukup luas digunakan untuk tujuan non-klinis, seperti di lingkungan bisnis dan industri. Tentunya hal ini memberi beberapa konsekuensi keterbatasan dalam mengungkapkan data, khususnya bila aspek yang hendak digali diyakini merupakan proyeksi dari dalam diri individu. Misalnya, untuk penggunaan DAP, Brower dan Weider (1959 : 441) melalui studinya mengungkapkan empat area data yang penting untuk diinterpretasi dengan sejumlah rincian interpretasi yang menurutnya cukup signifikan untuk dipertimbangkan dalam situasi non-klinis.

Dalam upaya analisis projektif, Levy (1959) dan Ogdon (1984) berpendapat bahwa tes grafis tidak sepenuhnya dapat dievaluasi tanpa memperhatikan verbalisasi baik komentar spontan, ekspresi dan perilaku motorik selama pelaksanaan tes maupun respon dari wawancara post-test.

Hal ini didasarkan atas asumsi psikologi projektif bahwa tidak ada perilaku yang muncul tiba-tiba, semua perilaku bersifat deterministik (Levy, 1959 : 260). Sehingga semua perilaku yang muncul, termasuk gambar itu sendiri, merupakan sumber informasi yang penting untuk diamati. Hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam interpretasi adalah bahwa apa yang digambar oleh subjek dapat merupakan hasil suatu ekspresi kesadaran atau dapat juga sebagai simbol-simbol dari diri individu yang terdalam yang diekspresikan sebagai gejala ketidaksadaran (Levy, 1959 : 260). Oleh karenanya, harus dihindari cara-cara yang dangkal, naif, dogmatis dan “primbonistik” dalam menginterpretasikan hasil tes grafis.

Kecerdasan Emosional dan Prinsip-prinsip Psikoanalisa

Sebelum mengulas tentang peran tes grafis dalam mengungkap kecerdasan emosional, perlu terlebih dahulu diuraikan aspek-aspek utama dari kecerdasan emosional menurut Goleman sesuai dengan apa yang dapat ditangkap oleh penulis. Dengan memperluas konsep kecerdasan pribadi dari Salovey dan Gardner, Goleman (1997) menggambarkan batasan yang mendasar tentang kecerdasan emosional dalam lima wilayah utama, yaitu ;

Þ Mengenali emosi diri. Dalam konsepsi umum psikologi, aspek ini dapat dianalogikan dengan kesadaran diri atau “self awareness”, yaitu ; mengenali perasaannya sendiri saat perasaan itu muncul. Untuk itu dibutuhkan kepekaan yang cukup kuat untuk menangkap perasaan atau emosi diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaannya sendiri akan mengakibatkan individu berada dalam kekuasaan perasaannya, oleh karenanya ia akan mengalami kesulitan untuk memahami tindakan-tindakannya sendiri.

Þ Mengelola emosi. Mengelola emosi atau meregulasinya merupakan kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Regulasi emosi penting bagi individu untuk dapat melepaskan diri dari kecemasan, murung serta kondisi-kondisi emosi negatif yang berlanjut. Disamping itu, kecakapan ini juga dapat menjaga individu dari luapan emosi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan realita. Ketidak mampuan diri untuk mengelola emosi akan mengakibatkan hambatan dalam recovery dari kondisi emosional yang ekstrim.

Þ Memotivasi diri sendiri. Aspek ini menjadi penting karena berkaitan dengan kemauan untuk memberi perhatian, memotivasi diri untuk menguasai diri sendiri, dan berkreasi. Individu-individu dengan keterampilan ini cenderung lebih produktif, responsif, dan efektif dalam hal apapun yang dikerjakannya.

Þ Empati. Aspek ini berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali emosi orang lain. Kemampuan ini dibangun berdasarkan kesadaran diri yang merupakan dasar penting dalam keterampilan bergaul. Semakin terbuka seseorang terhadap emosi diri sendiri, semakin terampil ia membaca perasaan. Individu dengan kemampuan empati akan mudah menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi sebagai isyarat tentang apa-apa yang dikehendaki atau dibutuhkan oleh orang lain. Hambatan dalam aspek ini akan membuat seseorang menjadi dangkal secara emosional dan kurang hangat karena ia kesulitan untuk merasakan perasaan orang lain.

Þ Membina hubungan. Kemampuan ini sebagian besar merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Tidak hanya bertumpu pada aspek empati, tetapi juga kemampuan mengorganisir orang lain, menganalisis situasi sosial, bersikap responsif, persuasif dan asertif bila perlu. Ketidakmampuan di bidang ini membuat individu bersikap pasif dan kurang terampil dalam hubungan interpersonal.

Lebih lanjut, Goleman mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya mencakup aspek pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan memotivasi diri sendiri. Bila ditelusuri lebih cermat, kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi dalam bentuk pengendalian diri merupakan titik perhatian terbesar dalam menjelaskan kecerdasan emosional. Sesuai dengan prinsip-prinsip psikoanalisa maka tampaknya fungsi ego (dan kekuatan ego/ ”ego strength”) dalam meregulasi dorongan emosi maupun naluri, dapat menjelaskan gambaran kecerdasan emosional seseorang. Dan sejauhmana tingkat kecerdasan emosional seseorang perlu dilihat implementasinya dalam bentuk kesesuaian tindakan atau perilaku dengan realita.

Dalam menjelaskan hal ini, Goleman mengungkapkan pentingnya dua jenis tindakan pikiran. Tindakan pikiran emosional dan tindakan pikiran rasional. Individu yang dikuasai oleh tindakan pikiran emosional cenderung berperilaku “telanjang” tanpa polesan, atau dengan kata lain “impulsif”, kekanakan-kanakan, atau perilaku primitif lainnya. Hal ini diterangkan dengan baik oleh Freud (Goleman, 1997 : dengan konsepnya tentang “proses primer” (primary process). Segi positif dari tindakan pikiran emosional adalah fungsinya sebagai energi penggerak. Hanya saja bila tidak dipoles (dengan tindakan pikiran rasional) akan berwujud perilaku yang bersifat primitif, tidak logik atau tidak masuk akal. Sebaliknya, seorang individu yang dikuasai oleh tindakan pikiran rasional cenderung semua tindakannya diwarnai oleh kuatnya pertimbangan kognitif, dan logika yang berwujud pada perilaku yang sangat hati-hati, serba dipikir, sehingga individu tampil lamban, dangkal secara emosional atau kurang responsif. Pengaruh dominansi yang ekstrim dari salah satu tindakan emosional ataupun rasional dalam menghadapi realita lingkungan akan menunjukan perilaku yang tidak realistik. Dibutuhkan keseimbangan dari kedua tindakan untuk dapat melakukan judgement yang “tepat” untuk bertindak sesuai dengan realita yang dihadapi. Dan mengikuti konsep psikoanalisa, berarti berfungsinya secara efisien salah satu fungsi ego, yaitu ; reality testing (uji realita) yang juga menunjukan taraf kematangan seseorang.

Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bersifat hipotetis bahwa pada dasarnya untuk mengungkap kecerdasan emosional penting untuk memahami dinamika aspek emosi dan fungsi ego terutama pada kemampuan judgement dalam uji realita. Tidak seluruh konsep kecerdasan emosional telah dijelaskan secara utuh dan dinamik mengikuti konsep teori psikoanalisa, namun secara ringkas dapatlah digambarkan bahwa konsep kecerdasan emosional pada dasarnya dapat dipahami melalui prinsip-prinsip psikoanalisa sebagai acuan dasar teknik projektif. Sehingga untuk mengungkap gambaran kecerdasan emosional, tes-tes grafis sebagai instrumen psikologi dengan pendekatan teknik projektif dapat dimanfaatkan.

Analisis Tes Grafis dan Kecerdasan Emosional

Dari tes-tes grafis yang umum digunakan, terdapat beberapa macam tes yang cukup populer. Antara lain ; DAP (Draw a Person), Tes Pohon, HTP (House Tree Person), dan WZT (Wartegg Zulliger Test) serta Tulisan tangan (mengarang). Berkaitan dengan maksud mengungkapkan kecerdasan emosional, akan diulas DAP dan WZT, sedangkan tes-tes lainnya melengkapinya.

Mengikuti pendapat Levy (1959 : 262) terdapat tiga pendekatan umum dalam interpretasi tes grafis, yaitu ; formal, grafologi, dan psikoanalitik atau content anylisis. Penekanan pendekatan analisis data tes untuk diinterpretasi sangat bergantung orientasi yang didasarkan atas keterampilan dan pengalaman psikolog. Beberapa psikolog menekankan pada pendekatan analisis formal, sedangkan lainnya lebih memperhatikan aspek grafologi dst. Sehingga seringkali muncul kesenjangan dari hasil interpretasi. Untuk mengupayakan konsistensi hasil interpretasi tampaknya memang diperlukan pengalaman yang cukup intens di bidang ini.

Melalui studi tentang pemanfaatan DAP sebagai teknik asesmen kepribadian, Urban (Ogdon, 1984 : 66) mengungkapkan tidak kurang 14 karakteristik normal atau “sehat”. Pengertian “sehat” disini menyangkut ego yang berfungsi efisien, artinya sebagai institusi kepribadian individu yang berhadapan dengan realita, ia mampu mengenal dorongan-dorongan, perasaan-perasaan dan emosinya sehingga ia dapat mengendalikannya sesuai dengan realita yang dituangkan ke dalam layar material tes.

Kriteria karakteristik tersebut mencakup pendekatan analisis formal, grafologi, dan content analysis. Beberapa kriteria tersebut antara lain ; menyangkut bagaimana ukuran gambar yang dibuat, bagaimana penempatan gambar, proporsi gambar, kelengkapannya, bagaimana kualitas garis, urutan gambar dan menggambarnya, bagaimana detil bagian-bagian tertentu dari gambar, komentar tentang gambar, penggunaan hapusan, dsb. Walaupun studi yang sistematik tentang hubungan antara karakteristik tersebut dengan kecerdasan emosional belum ada, namun setidaknya kriteria ini dapat menjadi informasi yang penting untuk mengenal kecerdasan emosional.

Dari studi tentang DAP, Ogdon (1984 ; 65) mengungkapkan bahwa ada hubungan antara kemampuan intelektual dengan hasil proyeksi gambar yang ditampilkan melalui proporsi tubuh, akurasi detil, kemampuan membuat shading, kemampuan memberikan ekspresi pada wajah yang digambar. Tentunya interpretasi yang lebih mendalam tentang detil gambar akan lebih dapat mengungkapkan area atau wilayah utama dari kecerdasan emosional yang dimaksud. Misalnya, untuk mengetahui aspek pengenalan diri, penting diketahui pemanfaatan dimensi keruangan pada hasil gambar dan pemanfaatan shading yang konstruktif disamping ukuran dan proporsi gambar. Atau untuk memahami sejauhmana kemampuan regulasi emosi, perlu diamati kualitas garis yang konsisten dan bagaimana ia menyelesaikan gambar, dsb., dsb.

Pendekatan yang hampir sama dapat dilakukan pada analisis WZT. Hal yang membedakan untuk diperhatikan pada WZT adalah bahwa stimulus (yang ambigus) sudah tertuang pada material tesnya yang terbagi ke dalam bagian-bagian tertentu sesuai dengan aufderungskarakter-nya. Terdapat tiga cara pendekatan analisis, yaitu ; Stimulus Drawing Relation (SDR), Content Analysis, dan Excecution (Kinget, 1952 : 12). Prosedurnya, ke tiga cara ini perlu dipenuhi untuk saling melengkapi. Namun untuk kepentingan praktis, analisis SDR dan excecution, tanpa mengenyampingkan pentingnya content analysis, dapat dijadikan informasi utama dalam interpretasi. Dengan asumsi bahwa SDR berkaitan dengan salah satu fungsi ego, yaitu persepsi dan regulasi afek, maka keadekuatan atau sensibilitas dalam mengolah rangsang (stimulus) - yang sesuai dengan aufderungskarakter - dapat memberikan informasi bagaimana ia menghadapi realita yang ditampilkan oleh lingkungan. Hasil analisis ini penting untuk mengetahui kemampuan reality testing individu sebagai salah satu fungsi ego yang telah diasumsikan dapat mengidentifikasi kecerdasan emosional. Dan rincian tentang informasi sejauhmana efisiensi ego dalam mengolah dan menyalurkan dorongan-dorongannya dapat diperoleh dari cara bagaimana ia menyelesaikan gambar-gambarnya (excecution). Tentunya dukungan dari analisis perbandingan antar SDR tiap-tiap rangsang dan content atau apa yang digambar akan lebih dapat melengkapi informasi sehingga kepribadian individu dapat diinterpretasi lebih utuh.

Seperti halnya tes-tes grafis lainnya, perilaku subjek dalam menggambar, keterangan dan komentar tentang gambar-gambar yang dikerjakan oleh subjek tetap dipandang penting sebagai bahan informasi bagi kepentingan interpretasi. Tentunya disamping tes-tes grafis yang telah diuraikan di atas masih terdapat tes-tes lainnya yang dapat dijadikan tambahan data dan informasi. Karena informasi yang lebih lengkap akan mencegah kekeliruan dalam interpretasi

Penutup

Dari ulasan yang ringkas ini, tentunya masih dibutuhkan penjelasan yang lebih lengkap dan diskusi yang lebih intens untuk menambah kedalaman dan keluasan pemahaman tentang peran tes-tes grafis dalam mengungkap kecerdasan emosional. Oleh karenanya, penulis menganggap cukup esensial adanya media diskusi untuk menampungnya. Melalui makalah ini diharapkan dapatlah dijadikan acuan awal untuk menggugak diskusi-diskusi lebih lanjut.

Jakarta,

5 - Mei - 1998

Daftar Pustaka

Anastasi, A., (1988). Psychological Testing (6’th.ed). New York : Macmillan Publishing Company.

Brower, D., dan Weider, A., (1959). Projective Techniques in Business and Industry. Dalam, Abt, L.E., dan Bellak, L (Eds). Projective Psychology ; Clinical Approach to The Total Personality. New York : Grove Press, Inc.

Goleman, D., (1997). Kecerdasan Emosional. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Levy, S., (1959). Figure Drawing as A Projective Test. Dalam, Abt, L.E., dan Bellak, L (Eds). Projective Psychology ; Clinical Approach to The Total Personality. New York : Grove Press, Inc.

Kendall, P.C., dan Norton-Ford, J,D., (1982). Clinical Psychology ; Scientific and Professional Dimensions. New York : John Wiley & Sons, Inc.

Kinget, G.M., (1952). The Drawing Completion Test ; A Projective Technique for The Investigation of Personality. (Terjemahan).

Ogdon, D.P., (1984). Psychodiagnostics and Personality Assessment ; A Handbook (2’nd.ed). Los Angeles : Western Psychological Sevices.

Tidak ada komentar: